Langsung ke konten utama

Melakukan Program Audit KPI

Salah satu hal terpenting dalam memastikan bahwa KPI yang didesain oleh organisasi efektif, adalah dengan menjalankan audit KPI.  Secara prinsip audit KPI dapat dilakukan oleh perusahaan secara internal, namun tidak sedikit perusahaan melakukan proses audit KPI melalui perusahaan eksternal.

Untuk proses audit KPI, terdapat 3 (tiga) langkah penting yang harus dijalankan untuk menjalankan tahapan audit yang dimaksudkan tersebut.

(1) Melakukan Proses Pengukuran Indikator Performa
Proses ini adalah melakukan kegiatan verifikasi terhadap indikator performa dari kegiatan pengukuran kinerja tersebut. Proses verifikasi yang dilakukan adalah melakukan analisis terkait dengan kesesuaian antara pencatatan kinerja dengan aktual kinerja yang ada. Memastikan tersedianya bukti yang menunjukkan kesesuaian atas pencapaian kinerja yang dimaksudkan tersebut.

(2) Melakukan Verifikasi Atas Hasil Evaluasi
Setiap tahapan proses pencapaian yang tidak sesuai dengan standar persyaratan, maka dilakukan proses evaluasi untuk kemudian menetapkan tindakan perbaikan dan pencegahan yang terkait dengan status kemampuan untuk melakukan program pencapaian atas target dan sasaran yang akan dicapai.

(3) Memastikan Kontinyuitas Verifikasi terhadap seluruh Elemen Organisasi
Memastikan sinkroninasi antara pencapaian KPI yang ditetapkan individual terkait dengan KPI kelompok ataupun perusahaan.yang dipergunakan untuk memastikan atas pencapaian individu dan organisasi secara simultan. Memastikan bahwa target tersebut memiliki hubungan yang tepat untuk pencapaian target perusahaan.

Di atas adalah 3 (tiga) tahapan/ langkah yang dapat dipergunakan oleh perusahaan secara internal melakukan program audit KPI. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat menjalankan program audit KPI. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengembangan Jalur Vertikal dan Horizontal

Bagaimana proses aplikasi dari pengembangan karir seseorang dijalankan dalam suatu jabatan yang sangat bersifat spesialistik. Proses pengembangan terhadap aplikasi karir itu sendiri dapat dilakukan dengan melakukan pengembangan secara vertikal dan horizontal. Penetapan pengembangan status aplikasi horizontal juga akan meliputi konsep pengembangan karir ke arah manajerial dengan menambah ruang lingkup spesialistik yang ada menjadi ruang lingkup pengembangan kompetensi yang lebih luas dalam memahami bidang lainnya. Lalu bagaimana proses konsep pengembangan karir secara vertikal dan horizontal tersebut dijalankan. (1) Jalur karir vertikal Dijalankan dengan meningkatkan fungsi spesialistik dari individu yang ada, kondisi peningkatan jalur vertikal ini hanya dapat muncul apabila konsep pengembangan dari posisi dalam organisasi adalah menduduki konsep strategi fungsional, dimana aspek pengembangan dari komponen organisasi yang dijalankan lebih mendalam ke dalam peningkatan skill indiv...

Teknik Mengkomunikasikan Peraturan Perusahaan yang Tepat

Banyak perusahaan mengalami permasalahan mengenai proses mengkomunikasikan suatu peraturan kepada karyawannya. Masalah yang timbul bisa berasal dari sulitnya untuk membuat karyawan paham mengenai esensi peraturan untuk peningkatan nilai yang positif ke dalam bisnis dan bukannya sebagai bentuk pembatasan untuk meningkatkan kinerja atau performa yang ada dalam perusahaan. Lalu bagaimana proses yang paling tepat untuk melakukan proses sosialisasi yang dimaksudkan tersebut. Proses sosialisasi sebaiknya menggunakan suatu teknik komunikasi yang menggunakan pendekatan dari sisi identitas kematangan individu karyawan itu sendiri. Karyawan sebaiknya dibuat melihat bahwa peraturan perusahaan lebih memberikan konsep keadilan bukan untuk pembatasan. Artinya melihat bahwa peraturan memberikan efek untuk memberikan nilai reward dan punishment yang tepat. Proses sosialisasi juga harus melihat budaya perusahaan dalam mengelola suatu bentuk proses. Lakukan identifikasi dan teknis yang tepat se...

Arsitektur Human Resources dalam Perusahaan

Dalam mengelola SDM (Sumber Daya Manusia) dalam perusahaan, adalah menjadi tantangan bagi perusahaan untuk mampu menyeimbangkan antara tingkatan nilai yang dapat dicapai oleh SDM terkait dengan nilai yang diharapkan oleh perusahaan.  Semakin tinggi nilai yang menjadi kontribusi dari perusahaan, maka semakin tinggi nilai yang dimiliki oleh SDM tersebut. Sebaliknya, ketika nilai yang diberikan sebagai bentuk kontribusi terhadap perusahaan adalah rendah maka nilai yang dimiliki oleh SDM tersebut adalah rendah. Variabel lainnya yang menjadi pertimbangkan dalam proses penetapan terkait dengan keunikan SDM tersebut dalam perusahaan.  Semakin tinggi nilai keunikan yang dimiliki, menunjukkan bahwa posisi karyawan tersebut adalah khas dan penting dalam organisasi. Lalu bagaimana pola klasifikasi ditetapkan terkait dengan pengelompokan SDM tersebut. (1) Kelompok Pertama: Pekerja Kontrak Secara prinsip pekerja kontrak adalah type pekerja yang memiliki keunikan rendah dan kontribusi...